Janji Suci Bangsa Indonesia – Puisi Perjuangan Spesial Hari Kebangkitan Pancasila

“Aku merindukan saat-saat itu”
Kata seorang pria tua dengan logat Jawa yang sangat kental
Sekental kopi hitam panas yang mengepul di tangan kirinya
Tampak matanya sayu, terbungkus kelopak mata yang berkerut digerogoti waktu
Ia tersenyum sendu, kemudian menyesap kopinya dan mulai bercerita

“Waktu itu, jalanan tidak dilapisi aspal seperti sekarang
Yang ada hanya tanah
Yang dilapisi oleh mesiu dari senapan yang berdesing hebat
Diiringi teriakan bocah 17 tahun yang menahan lara ketika peluru bersarang di rusuknya
Dan diwarnai darah pemuda yang di dadanya tertancap belati

Aku ingat saat-saat itu
Pemuda terbaik dari pelosok desa harus turun ke jalan
Menenteng bambu runcing di tangan kiri dan bendera merah putih di tangan
Maju meneriakkan nama Tuhannya dengan bangga sambil menyerang bangsa penjajah
Melupakan segala impian menjadi dokter atau arsitek
Mati dengan mulia demi satu tujuan, demi masa depan

Aku ingat semua teman-teman seperjuanganku
Ada Batak, Jawa, Dayak, Papua, hingga Arab dan Cina
Ada yang Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, hingga Sunda Wiwitan sekalipun
Dalam jeritan mortar dan guyuran hujan darah
Kami semua adalah saudara, saling merangkul dalam dekapan ibu pertiwi

Kami lebih dari memperjuangkan kemerdekaan
Kami memperjuangkan masa depan
Generasi mendatang yang berkembang namun tetap berpegang pada kearifan lokal

Lalu tiba hari itu, 1 Juni 1945
Pemimpin kami menyampaikan pidatonya
Pidato berisi rumusan dasar negara yang akan mengubah segalanya
Menentukan hukum, undang-undang, serta ideologi bangsa kedepannya
Pada hari itu juga, Lahirlah Pancasila

Namun, langit seolah tak merelakan matahari bersinar di Indonesia begitu saja
Cobaan demi cobaan terus menerjang
Membuat bangsa ini terombang-ambing dalam kelabilan hidup
Para separatis hadir, mencoreng Garuda Pancasila dengan ideologi yang mereka bawa

Tapi, tak peduli dengan angin dan hujan, Garuda selalu terbang tinggi!
Pancasila dibawanya terbang melintas angkasa
Meluruskan kembali Khatulistiwa yang pernah dibengkokan oleh perseteruan

Tak peduli apapun yang terjadi, Pancasila akan selalu bangkit
Ia adalah sebuah sumpah yang sakral
Hasil keringat dan senyuman para pahlawan
Ia akan selalu muda dan abadi
Tak peduli politik berkelahi saling caci maki
Dan zaman yang selalu berganti”

Ia mengakhiri ceritanya dengan senyuman bahagia
Matanya berbinar, air matanya menetes penuh haru
Lalu ia mendongak, menatap langit dengan penuh harapan
Perlahan-lahan ia mengucapkan kata-kata yang tak akan pernah kulupakan,

“Hingga Tuhan menyuruh kita semua pulang, Pancasila akan selalu bertahan. Karena sumpah yang dilukis dengan darah perjuangan akan selalu menang melawan ego segelintir orang yang menginginkan perpecahan.”

 

PS: Selamat memperingati Hari Kesaktian Pancasila!

Salam hangat,
-Krisma

Credit Picture: Julio Bagaskara

Leave a Comment