Hujan dan Senja Selamanya

“Biip…biip…”
Handphoneku bergetar dengan keras
Seolah tidak sabar untuk menyampaikan sebuah rindu
Kulirik, ada namamu terpampang di layar
Andai kamu lihat senyumku saat itu
Cerah, bahkan langit pagi ini tak sanggup menandinginya

Kamu selalu berkata padaku tentang bagaimana kamu menyukai hujan
Tentang bagaimana rintik-rintik itu berpacu menuruni jendela rumahmu
Dengan kita di dalamnya
Asik bersenda gurau diantara kopi yang mengepul panas
Perlahan hanyut, dalam tatapan satu sama lain

Aku sungguh menikmati saat-saat itu
Namun, diam-diam aku selalu merindukan matahari
Bagiku, matahari terbit menandakan muncul halaman baru yang siap diberi warna
Tentu aku bersemangat, karena aku tau ada kamu
Yang menjadi warna penting dalam setiap lembar kehidupanku
Kehangatan pagi seperti inilah yang selalu aku rindukan setiap malam

———————————-

Pagi ini dinginnya keterlaluan
Seperti dinginnya sikapmu padaku
Semenjak kamu memutuskan untuk pergi dari hidupku
Mataku yang sayu menatap ke depan dengan kosong
Tak tahu mau kemana, tak tahu juga arah jalan pulang

Kopi yang ada di depanku nampak pula kedinginan
Kuaduk-aduk lagi dengan bimbang
Akhirnya, keluar juga uap yang ditunggu-tunggu
Aku memandang uap itu naik sebentar lalu pergi dibawa angin
Sungguh, aku berharap perasaanku ikut terbang dan hilang bersama uap itu

———————————-

Cerahnya sinar pagi ini ternyata tidak bisa menutupi gelapnya kehidupan
Matahariku sudah tenggelam
Meninggalkan lembaran-lembaran hidup yang kini berwarna hitam putih
Pergi, memutuskan untuk menjadi senja selamanya

-krisma

15 thoughts on “Hujan dan Senja Selamanya

Leave a Comment